Featured
- Get link
- X
- Other Apps
"In This Economy" Apakah Kita Bisa Berhemat Melawan Perilaku Konsumerisme?
(Ilustrasi seseorang yang sedang memperlihatkan kantong
kosongnya. Sumber: Freepik.com)
Akhir-akhir ini, istilah “in this economy?” sering muncul di media sosial, terutama X. Istilah ini biasanya digunakan saat seseorang merasa heran atau menyindir keputusan finansial yang terkesan gegabah di tengah kondisi ekonomi yang tak pasti. Misalnya, “It’s just impossible to save money in this economy.” Ungkapan ini secara tidak langsung mendefinisikan realita hidup banyak orang saat ini. Dengan kenaikan harga dan penghasilan yang mandek, tapi dorongan buat konsumsi tetap tinggi.
Pernah nggak sih kamu merasa baru saja gajian, seminggu kemudian uang kamu sudah tinggal separuh? Nah, bisa jadi kamu lagi kena istilah virus konsumerisme seperti orang-orang yang ada di tren “in this economy?”. Fenomena ini nggak pandang usia, lho. Mau kamu remaja, dewasa, atau bahkan orang tua sekalipun, semuanya bisa kebawa arus konsumtif kalau nggak bisa kendalikan diri.
Konsumerisme merupakan gaya hidup impulsif yang mendorong seseorang untuk membeli produk karena keinginan, bukan karena benar-benar butuh. Di tengah tekanan dan keadaan ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja, justru gaya hidup ini makin menggoda karena sering dijadikan alasan self-reward, FOMO, atau istilah lainnya. Ternyata, konsumerisme juga perlu diperhatikan, karena bisa bikin dompet kosong sebelum tanggal gajian.
Yuk, kita coba pelan-pelan ubah kebiasaan kita buat mulai belajar melawan perilaku konsumerisme dengan cara yang lebih santai dan biar uang kamu aman!
Bedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan
Kalau lagi cuci mata lihat-lihat produk di e-commerce, tangan suka gatal buat masukin produk ke keranjang. Sebelum checkout keranjang belanja, yuk coba tanya dulu ke diri sendiri “Sebenarnya aku beneran butuh ini nggak ya? atau cuma pengen aja?” Kadang, sulit membedakan antara keinginan dengan kebutuhan, apalagi karena diskon atau iklan yang menggoda. Tapi kalo barangnya bakal tak terpakai di rumah, jadi sayang banget.
Nah, jadi perlu banget membedakan antara kebutuhan dengan keinginan, karena secara tidak langsung bisa mempengaruhi cara kita mengambil keputusan waktu belanja. Kalau kita bisa menahan diri dan berfikir sebelum checkout, kita jadi lebih bijak dalam mengelola uang, jadi nggak menyesal karena beli barang yang ujung-ujungnya nggak terpakai.
Jauh-Jauh dari Tren (FOMO)
Kadang suka pengen lihat orang beli produk yang lagi tren, tapi kalau dipikir-pikir nggak perlu dan belum tentu cocok juga kita. Bisa jadi ini cuma FOMO (Fear of Missing Out). Ingat, tren bakal lewat, tapi uang nggak bisa kembali dan datang dengan sendirinya.
Jadi, penting banget buat sadar kalau nggak semua tren harus diikuti. Perasaan FOMO itu cuma sesaat, kalau ikut-ikutan beli tanpa pertimbangan, ujung-ujungnya nggak dan menyesal. Gapapa kok kamu tertinggal, yang penting kita tahu mana yang benar-benar kita dibutuhkan dan sesuai sama diri kita.
Coba Terapkan Anggaran Belanja
Tiap bulan saat gajian, kita perlu banget budgeting keuangan untuk tahu uang kebutuhan pokok, tabungan, hingga hiburan. Seperti cara yang diciptakan oleh Elizabeth Warren, yaitu metode 50/30/20. Metode budgeting yang mengalokasikan pendapatan sebesar 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk kebutuhan pribadi, dan 20% disisihkan untuk tabungan. Hal ini dapat mempermudah pengeluaran yang diperlukan.
Kamu juga bisa melakukan budgeting dengan menggunakan excel atau google sheet untuk mencatat pendapatan dan pengeluaran dari setiap transaksi, untuk mentracking keuangan kamu dengan mudah, seperti dari salah satu karakter fiksi Kaluna pada novel Home Sweet Loan, yang kemudian diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama.
Kalau masih merasa ribet, tersedia beragam aplikasi untuk mencatat keuangan yang bisa diunduh secara gratis, seperti aplikasi Money Manager dan Money+ Cute Expense Tracker.
Istirahat Sejenak dari E-Commerce
Tidak hanya istirahat dari media sosial, terkadang perlu juga istirahat dari e-commerce. Apalagi buat kamu tipe yang suka “cuci mata” di e-commerce melihat produk yang sedang promo terus bakalan kepikiran “kalau dibeli sebenarnya kurang perlu banget, tapi kalau nggak dibeli juga sayang.” Akhirnya malah belanja impulsif.
Coba uninstall dulu aplikasinya beberapa hari. Biar pikiran kamu nggak tergoda terus dan bisa istirahat sejenak, hitung-hitung menyelamatkan uang.
Terapkan Delay Gratification
Kalau kamu kepikiran buat beli sesuatu, yuk coba terapkan istilah Delay Gratification. Delay Gratification merupakan kemampuan untuk menunda kepuasan atau kesenangan yang bersifat instan demi mendapatkan manfaat yang lebih besar di masa depan.
Nah, kalau benaran pengen beli produk itu coba tahan dulu 1–2 minggu. Kalau lewat dari minggu itu kamu masih mikirin barang itu dan ternyata dibutuhkan, baru deh beli. Tapi kalau nggak, berarti itu cuma pengen saja.
Belajar dari Pengalaman Boros
Terkadang, pengalaman sendiri bisa jadi pembelajaran di kemudian hari. Ingat-ingat lagi momen ketika kamu nyesel habis beli sesuatu yang nggak perlu, biar kedepannya kamu bisa lebih hati-hati.
Jadi, nggak peduli usia dan latar belakang mau, siapa pun bisa terjebak dalam gaya hidup konsumerisme. Godaannya memang banyak, apalagi di tengah tekanan hidup dan derasnya tren yang datang silih berganti, sehingga terpaksa buat kita harus mengikuti tren tersebut. Tapi bukan berarti kita nggak bisa untuk jadi lebih bijak dalam mengelola keuangan.
Coba dulu aja, Mulai pelan-pelan dari membedakan mana yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang cuma keinginan sesaat. Dengan begitu, kamu bisa lebih sadar setiap kali mau belanja, lebih tahan godaan diskon, dan pastinya lebih sayang sama uang sendiri. Yuk, jaga isi dompet, bukan cuma demi hemat, tapi juga demi jangka panjang dan masa depan.

Comments
Post a Comment