Skip to main content

Featured

Perawatan Wajah untuk Mencegah Munculnya Keriput

Penulis : Riga Fasya Dwi Jamaludin Perawatan Wajah untuk Mencegah Munculnya Keriput Foto Ilustrasi wanita mencegah keriput (Sumber: Freepik) Siapa sih! Yang tidak ingin punya wajah awet muda dan bebas keriput? Seiring bertambahnya usia, kulit memang mengalami perubahan alami. Memiliki wajah yang awet muda tentu menjadi dambaan banyak orang, terutama kaum wanita. Namun, seiring bertambahnya usia, keriput atau garis-garis halus dapat muncul pada area wajah. Hal ini sebenarnya wajar, karena kulit akan kehilangan elastisitasnya dan menghasilkan lebih sedikit kolagen (serat yang memberi kekuatan pada kulit) seiring pertambahan usia. Selain itu, gen juga diketahui berperan besar terhadap munculnya keriput, segingga beberapa orang lebih rentan memiliki garis-garis halus tersebut daripada yang lain. Contohnya, Wanita Kaukasia jauh lebih mungkin untuk mengalami tanda-tanda penuaan lebih cepat, dibandingkan Wanita Afrika, Asia Timur, atau Latina. Walaupun tidak bisa dihindari sepenuhnya, ...

Kilas Balik : Perkembangan fashion tahun 1980-an hingga era modern

 Penulis : Riga Fasya Dwi Jamaludin

Perkembangan fashion tahun 1980-an hingga era modern

Fashion tahun 1980-an. (Ow!ns/Pinterest)

Dari masa ke masa, dunia fashion tidak akan pernah berhenti berkembang mengikuti zaman. Pakaian merupakan salah satu cerminan budaya, sosial dan perkembangan teknologi.

Dalam perjalanan dari tahun 1980-an hingga era modern, fashion telah mengalami berbagai transformasi, mulai dari gaya yang mencolok hingga tren yang lebih minimalis. Pada era tersebut, gaya busana yang dominan adalah warna-warna terang, bahu lebar, serta penggunaan aksesoris yang mencolok yang menggabarkan semangat ekspresif dan kebebasan. Gaya ini di pengaruhi oleh music pop, film, serta ikon-ikon mode yang menjadi panutan kala itu. Tidak hanya di kalangan selebriti, tren ini juga menyebar luas ke Masyarakat umum dan menjadi bagian dari identitas generasi saat itu.

Memasuki tahun 1990-an, dunia mode mengalami perubahan drastis dengan munculnya dua tren utama : grunge dan minimalis. Gaya grunge yang terinspirasi dari musik rock alternatif menampilkan pakaian acak-acakan namun tetap modis, seperti kemeja flanel longgar, jeans robek, dan kaos band. Di sisi lain, tren minimalis hadir sebagai respon terhadap gaya berlebihan sebelumnya, menonjolkan kesederhanaan lewat potongan rapi, warna netral, dan desain yang bersih. Desainer seperti Calvin Klein menjadi pelopor gaya ini, yang kemudian semakin berkembang di era berikutnya

Kini, di era digital dan media sosial, fashion berkembang lebih cepat dan dinamis. Munculnya fashion influencer, e-commerce, serta kesadaran akan mode berkelanjutan membuat industri ini semakin beragam dan inklusif. Banyak desainer muda menghadirkan inovasi dengan memadukan nilai-nilai tradisional dan modern. Hal ini menunjukkan bahwa fashion bukan sekadar soal penampilan, melainkan juga media ekspresi diri, budaya, dan respon terhadap isu-isu global yang tengah berkembang.

1980-an: Era Ekspresi Berani dan Glamour

Fashion tahun 1980-an. (Ow!ns/Pinterest)

Setelah era warna neon dan gaya berani, tahun 90-an membawa angin perubahan dengan dua tren besar yang saling bertolak belakang: grunge dan minimalis.

  • Grunge: Terinspirasi dari musik rock alternatif dan band seperti Nirvana dan Pearl Jam, tren ini didominasi oleh pakaian yang terkesan acak-acakan namun modis. Kemeja flanel longgar, jeans robek, kaos band, dan sepatu boots menjadi ikon dari gaya ini.
  • Minimalis: Di sisi lain, minimalis muncul sebagai antitesis dari grunge. Gaya ini menonjolkan kesederhanaan dengan potongan pakaian yang rapi, bersih, dan warna-warna netral seperti hitam, putih, dan abu-abu. Desainer seperti Calvin Klein dan Donna Karan menjadi pelopor dari gaya ini.
  • Pengaruh Pop Culture: Serial TV populer seperti “Friends” juga memengaruhi fashion di era ini. Karakter seperti Rachel Green menjadi trendsetter dengan pakaian kasual chic yang terkesan santai tapi tetap stylish.

2000-an: Kebangkitan Y2K dan Streetwear

Fashion tahun 2000-an. (Ow!ns/Pinterest)

Memasuki milenium baru, fashion di awal 2000-an dipengaruhi oleh teknologi dan gaya hidup selebriti. Era ini membawa tren baru yang dikenal dengan sebutan Y2K (Year 2000), yang mencerminkan optimisme dan pengaruh teknologi.

  • Gaya Y2K: Crop top, celana low-rise, dan warna-warna metalik adalah ciri khas fashion di era ini. Pakaian yang terinspirasi oleh budaya pop dan futurisme mendominasi, seperti jaket denim, rok mini, dan atasan berpotongan pendek.
  • Denim on Denim: Gaya denim menjadi tren besar, bahkan tidak jarang orang memadukan jaket jeans dengan celana jeans, yang dikenal sebagai double denim look.
  • Streetwear: Budaya hip-hop dan skate juga memengaruhi fashion pada tahun 2000-an. Hoodie oversized, celana baggy, sneakers, dan topi menjadi item wajib dalam gaya streetwear.

2010-an: Athleisure dan Fashion Cepat

Fashion tahun 2010-an. (Ow!ns/Pinterest)

Dekade 2010-an membawa perubahan besar dengan kemunculan gaya “athleisure”, sebuah tren yang menggabungkan pakaian olahraga dengan gaya sehari-hari. Selain itu, fast fashion juga berkembang pesat, membawa perubahan besar dalam cara orang berbelanja dan berpakaian.

  • Athleisure: Celana legging, sneakers, dan pakaian olahraga lainnya menjadi tren yang tidak hanya digunakan di gym tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari. Gaya ini dipopulerkan oleh selebriti seperti Kendall Jenner dan Gigi Hadid.
  • Fast Fashion: Brand seperti Zara, H&M, dan Uniqlo semakin mendominasi dengan model bisnis fast fashion, di mana mereka dengan cepat memproduksi pakaian sesuai tren terkini dengan harga terjangkau. Meskipun banyak diminati, fast fashion juga dikritik karena dampaknya terhadap lingkungan dan buruh pabrik.
  • Kolaborasi High Fashion dan Streetwear: Dunia high fashion mulai merangkul streetwear dengan berbagai kolaborasi, seperti Louis Vuitton dengan Supreme. Perpaduan antara streetwear dan brand luxury membuat fashion lebih inklusif dan dinamis.

2020-an: Keberlanjutan dan Fashion Digital

Fashion tahun 2020-an. (OW!NS/Pinterest)

Memasuki dekade 2020-an, fashion semakin fokus pada isu keberlanjutan dan perkembangan teknologi digital. Perubahan ini sebagian besar dipengaruhi oleh kesadaran lingkungan dan peran teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

  • Fashion Berkelanjutan: Banyak brand dan desainer kini beralih ke produksi yang lebih ramah lingkungan menggunakan bahan daur ulang dan metode yang lebih etis. Konsumen juga semakin sadar akan dampak lingkungan dari pakaian yang mereka beli

  • Secondhand dan Thrifting: Membeli pakaian bekas atau preloved menjadi tren yang semakin populer. Aplikasi seperti Depop dan Vestiaire Collective memungkinkan orang untuk menjual dan membeli pakaian secondhand dengan mudah, mengurangi limbah fashion.

  • Fashion Digital: Di era teknologi dan metaverse, fashion digital mulai berkembang. Pakaian digital, yang digunakan dalam dunia virtual atau game, menjadi salah satu tren baru yang menarik perhatian banyak orang.

Melihat perjalanan panjang dunia fashion, jelas bahwa gaya berpakaian bukan sekadar tren yang datang dan pergi, melainkan bagian penting dari narasi kehidupan manusia. Setiap potongan busana menyimpan cerita tentang masa, tempat, dan pemikiran yang melahirkannya. Oleh karena itu, memahami fashion berarti juga memahami dinamika sosial dan budaya yang membentuk masyarakat dari waktu ke waktu.

Mari kita menjadi bagian dari perkembangan ini dengan lebih sadar dalam memilih dan mengenakan busana. Mulailah dengan mendukung mode berkelanjutan, menghargai warisan budaya lokal, dan tidak takut mengekspresikan jati diri lewat gaya. Karena pada akhirnya, fashion bukan hanya tentang apa yang kita kenakan, tapi juga tentang bagaimana kita menyuarakan nilai dan identitas kita di tengah perubahan zaman. Apa pun yang terjadi di masa depan, fashion akan terus berkembang, menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan nilai-nilai generasi berikutnya. 


Comments